Senin, 19 Maret 2018

Makna Spiritual Pada Tokoh Semar


Assalaamu'alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh                                                 

RENUNGAN
SOSIAL BUDAYA
Makna Spiritual Pada Tokoh Semar

Hasil gambar untuk angin api air bumi        Gambaran sosok Semar ini memiliki makna yang mengajarkan bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupannya sebagai manusia sejati
        Pada tulisan ini saya akan menguraikan makna yang tersirat dari sosok bernama Semar
Karena konotasi adalah maknaganda yang lahir dari pengalaman cultural dan personal
maka saya uraikan sesuai pengalaman personal
Semar berkulit hitam menggambarkan manusia yang selalu berjuang
        Ia tidak ingin mendapatkan untung tanpa usaha
Warna hitam juga adalah hakikat dari tanah (bumi) Pada zaman dahulu ilmu dibagi menjadi empat tahap yakni:
Saepi Geni (api)
Saepi Bayu (angin)
Saepi Banyu (air) dan Bumi (tanah)

Pertama Saepi Geni (api) adalah gambaran manusia yang baru belajar ilmu
sifatnya panas
Ia tidak ingin mengalah selalu menjajal ilmunya dan ia ingin selalu keatas seperti sifat api dan angkuh

Saepi Bayu (angin) adalah gambaran manusia yang ilmunya lebih tinggi lagi sifatnya angin rata
Ia melihat semua manusia sama ,Ia tidak membeda-bedakan yang tua, muda, anak-anak, miskin, kaya
pejabat dan rakyat dimatanya tetap sama sebagai manusia
Umur tua dan muda hanya raganya
kaya dan miskin hanya lahiriahnya
pejabat dan rakyat hanya statusnya di dunia yang fana
Hakikatnya semua manusia sama di mata Tuhan
semuanya layak mendapat penghormatan dan kasih sayang tanpa dibeda-bedakan

Saepi Banyu (air)adalahgambaran manusia yang ilmunya lebih tinggi lagi
sifatnya air turun kebawah
Ia selalu rendah hati
ia selalu sopan dan santun kepada siapa pun
Ia tidak merasa dirinya lebih berilmu daripada yang lain

Ilmu Bumi (tanah)adalah gambaran manusia yang ilmu lahir dan batinnya sangat dalam
seperti tokoh Semar yang berkulit hitam gambaran manusia yang sudah sampai pada Ilmu Bumi Bumi sifatnya diam
Bumi diinjak oleh banyak orang tetap diam
Bumi tidak marah walau manusia merusaknya Semua kekuatan api
air dan angin adanya di dalam Bumi
tetapi ia memendamnya dan tidak menunjukannya Artinya tidak sombong walau memiliki banyak ilmu dan kemampuan
Semua tumbu-tumbuhan tumbuh di bumi. Hewan dan manusia memakan hasil tanaman yang tumbuh di bumi Artinya manusia yang sudah mencapai Ilmu Bumi ia mampu memberi manfaat kepada tumbuhan hewan dan manusia Kasih.
sayang dan cintanya dia persembahkan untuk alam beserta isinya (tumbuhan hewan dan manusia) Maka demikianlah tokoh Semar yang berkulit hitam menjelaskan ia adalah manusia yang mencapai Ilmu Bumi


Wassalaamu'alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh





Minggu, 18 Maret 2018

"ILMU SEMAR MESEM"


Gareng : "Romo pernah dicaci-maki seseorang?"

Semar : "Pernah....!"

Petruk : "Pernahkah dimusuhi seseorang, Mo..?"

Semar : "Pernah....!"

Bagong : "..apa pernah dibenci seseorang, Mo?"

Semar : "Pernah....!"

Gareng : "Sampeyan juga pernah dihujat seseorang, Mo..?"

Semar : "Pernah....!"

Petruk : "Apakah semua itu dilakukan secara terang²an, Mo..?"

Semar : "Ada yang dilakukan secara terang²an, ada juga yang hanya dilakukan secara diam² dari belakang.."

Bagong : "Lantas apa yang Romo perbuat terhadap orang² itu..?"

Semar : "Thole, nggΓ¨r anak²ku cah bagus, podo dirungokno yo..! Aku tidak balik mencaci-maki dia, aku pun tidak merasa harus memusuhinya, tidak pula akan membencinya dan aku juga tidak berpikir akan membalas hujatannya.."

Gareng (penasaran) : "Kenapa bisa demikian, Mo..?"

Semar (sambil membetulkan duduknya) :  "Itu karena pikiran serta hatiku tidak terfokus pada siapa yang mencaci-maki, siapa yang memusuhi, siapa yang membenci dan siapa yang menghujat.

Pikiran dan hatiku hanya terfokus pada siapa yang menggerakkan lidah mereka sehingga mencaci-maki aku, siapa yang menggerakkan jiwanya sehingga memusuhi aku, siapa yang menggerakkan hatinya sehingga membenci aku dan siapa yang menggerakkan pikirannya sehingga membuat mulutnya menghujat aku..."

Petruk : "Dia itu siapa, Mo..?"

Semar : "Dialah GUSTI YANG Maha Pencipta. DIA-lah sebagai Maha yang berkuasa atas segala sesuatu yang sudah, belum, sedang dan yang akan terjadi.

Ya hanya DIA-lah satu²nya yang memberi kemampuan dan kekuatan pada orang² itu sehingga lidahnya bisa mencaci maki, jiwanya bisa memusuhi, pikirannya bisa membenci dan bibirnya bisa menghujat diri ini. Tanpa-NYA tentu mustahil bisa terjadi.
Sehingga aku beranggapan, sebenarnya cacian, kebencian, permusuhan​ dan hujatan itu sengaja dihadirkan GUSTI ALLAH SWT agar jiwaku menjadi kuat melewati rintangan dan hatiku menghebat tatkala menghadapi ujian.

Jadi, adalah SALAH BESAR jika aku menyalahkan orang² itu apalagi membalasnya.
Hasil gambar untuk orang jawa semarOh... Bagiku itu tidak perlu, bahkan aku berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan ini tidak mungkin terjadi secara tiba², semua sudah diatur sedemikian rupa oleh NYA, maka apapun kenyataan yang aku terima kemarin, hari ini atau suatu hari nanti, tidak ada kata sia², bahkan dibalik semua itu, pasti ada hikmah terbaik yang bisa merubah kehidupanku agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena aku tahu, sesungguhnya GUSTI  ALLAH itu MAHA BAIK.

Anak²ku,  kowe kabeh jangan terpengaruh kalau dihina. Jangan Hati Melambung kalau Dipuji.

Tidak Penting Dianggap Baik, yang Penting terus belajarlah menjadi orang yang Baik dan Bertanggung Jawab".

-----

Itu lah πŸ‘†πŸ‘† sekilas tentang ilmu 'Semar Mesem' yg mudah disampaikan namun sulit diamalkan(rodok angel nglakoni, tapi tetap berusaha menjadi lebih baik).πŸ™ Semoga Allah SWT senantiasa memberikan karunia keberkahan dan kebahagiaan utk kita semuanya.
Aamiin yRaπŸ™πŸ½

WIS TEKAN NGENDI URIPMU

Mawas diri. Terutama buat wong Jawa.

WIS TEKAN NGENDI URIPMU?
Ada 11 fase kehidupan manusia dalam falsafah Jawa sbb :

1. Maskumambang
Simbol fase ruh/kandungan di mana kita masih "mengapung" atau "kumambang" di alam ruh dan kemudian di dalam kandungan yang gelap.

2. Mijil
Mijil artinya keluar. Ini adalah fase bayi, di mana kita mulai mengenal kehidupan dunia. Kita belajar bertahan di alam baru.

3. Sinom
Sinom adalah masa muda, masa di mana kita tumbuh berkembang mengenal hal2 baru.

4. Kinanti
Ini adalah masa pencarian jati diri, pencarian cita2 dan makna diri.
Hasil gambar untuk orang jawa

5. Asmaradana
Fase paling dinamik dan ber-api2 dalam pencarian cinta, dan teman hidup.

6. Gambuh
Fase dimulainya kehidupan keluarga dengan ikatan pernikahan suci (gambuh). Menyatukan visi, dan cinta kasih.

7. Dandang Gula
Ini adalah fase puncak kesuksesan secara fisik dan materi (dandang = bejana). Namun selain kenikmatan gula (manisnya) hidup, semestinya diimbangi pula dengan kenikmatan rohani, dan spiritual.

8. Durma
Fase di mana kehidupan harus lebih banyak didermakan untuk orang lain, bukan mencari kenikmatan hidup lagi (gula). Ini adalah fase bertindak sosial. Dan berkumpul dengan teman2 seperjuangan, bersosialisasi.

*9.Pangkur*
Ini adalah fase uzlah (pangkur-menghindar), fase menyepi, fase kontemplasi, mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Menjauhkan diri dari gemerlapnya hidup.

*10.Megatruh*
Ini fase penutup kehidupan dunia, di mana Ruh (Roh) meninggalkan badan (megat: memisahkan). Fase awal dari perjalanan menuju keabadian.

*11.Pucung*
Fase kembali kepada Allah, Sang Murbeng Dumadi, Sangkan Paraning Dumadi. Diawali menjadi pocong (jenazah), ditanya seperti lagu pucung yang  berisi pertanyaan. Fase menuju kebahagiaan sejati, bertemu dengan yang Mahasuci.

Panjenengan/Anda di tahap mana?
Semoga bermanfaat...
Mari bersama mengingat kembali..

Wong Jawa aja ilang jawane. Mugi² tasih wonten manfaatipun. Aamiin.

Jumat, 23 Februari 2018

Kisah seorang penjual kerupuk yang memberi pelajaran mengenai berbisnis sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Pemurah.


Klinting … klinting … Bel di rumah saya berbunyi. Ada tamu rupanya. Saya bergegas membuka pintu depan. Seorang pria melempar senyum. “Apakah kerupuknya masih, Pak?”

Rupanya penjual kerupuk langganan kami. Saya melihat dua plastik besar berisi kerupuk ada di sadel sepeda onthelnya.

“Sebentar ya, Pak,” jawab saya seraya menuju ke ruang belakang untuk mengecek isi kaleng kerupuk. Saya mendapati dalam kaleng biru hanya tersisa empat kerupuk. Saya pindahkan kerupuk-kerupuk itu ke toples plastik dan menyerahkan kaleng biru kosong ke lelaki itu.

Saya menungguinya mengisi kaleng biru. Lima buah kerupuk dimasukkannya ke dasar kaleng. Lima kerupuk lagi di atasnya. Demikian seterusnya sampai kaleng itu hampir penuh. Sebelum menutup kaleng, pria itu menambahkan dua kerupuk sebagai bonus. Saya tersenyum. “Luar biasa!”

Pelajaran pertama saya petik dari penjual kerupuk itu: berusaha memberi lebih. Meskipun keuntungannya sedikit, ditemani sepeda onthel bertahun-tahun, ia adalah penjual yang murah hati, berlapang dada, dan pintu hatinya terbuka. Dengan membuka pintu hatinya, berkomunikasi dengan pelanggan menjadi lebih mudah. Perasaan hangatnya menciptakan keterbukaan yang menghapus rasa takut, rasa ragu, dan tidak aman.

Rahasia memberi, dari memberi senyum, harta, meskipun hanya dua kerupuk, akan membawanya menjadi pedagang yang tetap bahagia. Ia memilih mendapatkan rahmat Allah dari pada keuntungan semata. Rahmat Allah yang diturunkan di bumi hanya 1% sangatlah kecil dibandingkan dengan yang diturunkan di akhirat kelak, yakni yang 99%. Meskipun kecil, namun telah menyebar ke seluruh dunia berwujud kasih sayang, kepada sesama maupun kepada makhluk lain.

Dari Jabir bin Abdullah 
Radhiallahu‘anhu 
bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
, _“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang lapang hati apabila ia menjual dan berlapang hati, apabila ia membeli dan lapang hati tatkala ia menagih.”_ (HR. Bukhari, Ibnu Majah). Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan kalimat yang sedikit berbeda “Semoga Allah mengampuni seorang laki-laki di antara kalian, ia bersikap lembut apabila menjual dan lembut apabila ia membeli, lembut apabila menuntut.”

Dari seorang penjual kerupuk, kita dapat memetik pelajaran berharga untuk diterapkan dalam kehidupan kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Setelah mengisi ulang kaleng dengan kerupuk plus bonus, ia menyerahkan kaleng biru kepada saya sambil melempar senyum. “Ini, Pak, kerupuknya.”

“Berapa, Pak?” tanya saya.

_“Delapan ribu rupiah, Pak,”_sahutnya.

Saya membalas kebaikannya dengan memberinya Rp. 10.000.

_“Ini uang kembalinya, Pak,”_kata penjual kerupuk.

“Sudah, untuk Bapak saja,” kata saya.

“Terima kasih, Pak,” katanya. Ia berpamitan.

Rahasia sukses sejati adalah memberi. Itulah yang dilakukan penjual kerupuk. Itu cara penjual kerupuk memperlakukan kenikmatan yang diterimanya, walaupun hanya kecil.

Pelajaran kedua yang dapat saya petik: rasa syukur. Hanya menerima kelebihan Rp 2.000, tetapi penjual kerupuk itu mengungkapkan rasa senang dan syukurnya. Bandingkan dengan kita yang sering merasa kurang, tidak bersyukur atas anugerah Rp 20.000 atau Rp 200.000 atau Rp 2.000.000 atau bahkan Rp 2.000.000.000 yang kita dapatkan. Padahal kenikmatan yang telah kita peroleh cukup berlimpah. Mulai dari kenikmatan harta, kesehatan, anak, kesempatan, ilmu, dan beragama dengan nikmat. Tetapi kita sering lupa mensyukuri kenikmatan dari Sang Maha Pemberi.

Dari Anas Radhiallahu ‘anhu , ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah yang ketiga, dan tidaklah ada yang memenuhi perut anak Adam, selain tanah dan Allah Maha member taubat kepada orang yang bertaubat.” 
(Muttafaq alaih).

Rasa syukur merupakan kesadaran bahwa nikmat sesungguhnya berasal dari Tuhan Yang Maha Pemberi Kenikmatan, yang dapat menimbulkan kegembiraan dari nikmat tersebut serta mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Rasa syukur kepada Tuhan akan menyentuh hati kita yang paling dalam dan memancarkan cahaya kebaikan yang menghiasi makhluk di lingkungannya. Rasa syukur diucapkan sebagai ungkapan terima kasih dan pujian kepada Tuhan. Rasa syukur juga membuat seluruh anggota badan kita dapat menggunakannya dengan baik, dalam rangka menambah ketaatan kita kepada Tuhan dan berusaha menjaganya agar tidak digunakan untuk berbuat kemaksiatan. Bukanlah ungkapan syukur apabila kenikmatan yang diperoleh seseorang belum digunakan sesuai dengan ridho Tuhan atau belum bermanfaat bagi hamba-Nya yang membutuhkan.

Allah dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 7 berfirman, yang artinya, _“Dan tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”_

Pelajaran ketiga yang saya peroleh dari penjual kerupuk sungguh luar biasa, menurut salah satu tokoh yang paling berpengaruh di dunia, versi Michael Hart. Seminggu kemudian, penjual kerupuk itu datang lagi ke rumah saya. Seperti biasa, ia mengulang aktivitas yang dilakukannya. Ketika itu, saya sudah berangkat ke kantor. Penjual kerupuk itu disambut istri saya.

“Ini Bu, kerupuknya,” katanya sambil menebar senyum.

“Ini Pak, uangnya,” kata istri saya sambil memberikan uang Rp. 20.000.

Penjual kerupuk itu merogoh sakunya untuk menyerahkan uang kembalian.

“Ini kembaliannya, Bu,”
katanya.

“Sudah, untuk Bapak saja,” kata istri saya.

_“Tidak, Bu. Ini terlalu banyak,”_jawabnya. Ia bersikeras menyerahkan uang kembalian.

“Kalau Bapak tidak mau, untuk minggu depan,” kata Istri saya.

Jawaban penjual kerupuk itu sangat mengejutkan, dan tidak terpikirkan oleh istri saya. “Tidak, Bu. Saya nanti berutang. Saya tidak bisa menjamin apakah usia saya sampai minggu depan.”

Istri saya termangu mendengar jawabannya itu, dan menceritakan kisah itu kepada saya seusai makan malam.

Sang penjual kerupuk telah memberi pencerahan kepada kita, yang sering lupa dengan kematian. Beberapa di antara kita menghalalkan segala cara dalam berbisnis, tanpa menyadari kematian kita. Kisah penjual kerupuk itu mengingatkan kita untuk berbuat terbaik dalam berbisnis, sebagai ibadah yang dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Pemurah.

Senin, 27 Juli 2015

“Bacanya yang Keras,ya Pa . . .”


Semuanya  disadari john pada saat dia termenung seorang diri, menatap  kosong yang keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia belaka.
Hasil gambar untuk ayah menyesalYang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu lalu john membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham.
Pada saat John memeriksa pekerjaannya,  Magy putrinya yang baru berusia 2 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya, “Papa lihat!” John menengok kearahnya dan berkata, “Wah, buku baru ya?” “Ya Papa!” katanya berseri-seri, “Bacain dong!” “Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh” , kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya.
Magy hanya berdiri terpaku disamping  John sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali “Tapi mama bilang Papa akan membacakannya untuk Magy”. Dengan perasaan agak kesal John menjawab: “Magy dengar, Papa sangat sibuk . Minta saja Mama untuk membacakannya”.  “Tapi Mama lebih sibuk dari pada Papa” katanya sendu.  “Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu.”   “Lain kali Magy, sana! Papa sedang banyak kerjaan.”
John berusaha untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih berdiri kaku disebelah  Ayahnya sambil memegang erat bukunya. Lama sekali John mengacuhkan anaknya. Tiba-tiba Magy mulai lagi “Tapi Papa, gambarnya bagus sekali dan ceritanya pasti bagus! Papa pasi suka”.  “Magi, sekali lagi Ayah bilang: Lain kali!” dengan agak keras John membentak anaknya.
Hampir menangis Magy mulai menjauh, “Iya deh, lain kali ya Papa, lain kali”. Tapi Magy kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, menaruh bukunya dipangkuan sang Ayah sambil berkata “Kapan saja Papa ada waktu ya, Papa tidak usah baca untuk Magy, baca saja untuk Papa . Tapi kalau bisa, bacanya yang keras ya, supaya Magy juga bisa ikut dengar”.
John hanya diam. Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam pikiran  John. John teringat akan Magy yang dengan penuh pengertian mengalah. Magy yang baru berusia 4 tahun meletakkan tangannya yang mungil diatas tangannya yang kasar mengatakan: “Tapi kalau bisa bacanya yang keras ya Pa, supaya Magy bisa ikut dengar”. Dan karena itulah John mulai membuka buku cerita yang diambilnya, dari tumpukan mainan Magy di pojok ruangan.
Bukunya sudah tidak terlalu baru, sampulnya sudah mulai usang dan koyak. John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya. John  sudah  melupakan pekerjaannya yang dulunya amat sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap pemuda mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan depan rumah. John terus membacanya halaman demi halaman sekeras mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir.  Mungkin...

HIKMAH:
Jangan jadikan diri Anda seperti John,
SAAT SEMUANYA TERJADI,PENYESALAN SUDAH SANGAT TERLAMBAT......
Lakukan sesuatu sebelum anda terlambat untuk menyadarinya,
BERIKANLAH KEBAHAGIAAN BAGI MEREKA YANG ANDA      CINTAI.

Makna Spiritual Pada Tokoh Semar

Assalaamu'alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh                                                   RENUNGAN SOSIAL BUDAYA Makna ...